Selasa, 10 September 2019

Prahara Negeri Jerebu

Udara menua
Bulan merah
Prahara paru-paruku
Terpenjara senja

Hujan yang purba
Menggantung di pelupuk mata
Negeriku berduka
Membara melahap
Tempat berteduh

Laila Suryani

Menggantang Asap
Duka Riau Serantau

Minggu, 08 September 2019

Empek-empek Waloh nan Menggoda

Empek-empek Waloh nan Menggoda

Empek-empek Waloh adalah empek-empek yang bahan dasarnya waloh (labu), udang bajang, sop, tepung terigu, telur, air, dan bawang prey. Disebut juga dengan empek-empek banjar karena "urang banjar" suka sekali membuatnya. Jika empek-empek Palembang dimakan dengan tambahan "cuko" sebagai cocolan atau kuahnya, maka empek-empek banjar dimakan dengan menggunakan cocolan (cacapan) cabe yang dibuat dari cabe kering dicampur dengan bawang putih dan gula merah (gula aren) serta air asam jawa. Bisa dimasak atau cukup ditambahkan air panas saja.

Untuk empek-empeknya sendiri, dibuat dari tepung terigu yang dipadu dengan irisan sop, bawang prey, waloh parut dan udang bajang. Ditambah dengan ulekan bawang putih dan garam sebagai penyedapnya, adonan ini akan lebih lembut lagi jika ditambahkan dengan telur, dan air es. Kenapa dengan air es, bukan dengan air panas atau air biasa? Hal ini disrbabkan air es membuat empek-empek ini menjadi lebih lembut dan tidak keras meski sudah dingin dan dimakan keesokan harinya.

Sore ini, dihidangkan dengan air teh hangat dan air kelapa serta buah jeruk sebagai peluntur lemak biar tidak tambah gemuk semlohay. Catatannya, makanlah jeruknya dulu, baru empek-empeknya ya, begitu yang saya baca di internet. Menurut mbah google, biar tak berubah jadi racun. Untuk kebenarannya, wallahu a'lam, saya belum sempat menelitinya, namun seperti itulah yang saya baca.

Empek-empek waloh ini merupakan kesukaan my hubby dan anak-anak. Sayang sekali si kembar dan si sulung tak ada karena menuntut ilmu di perantauan. Biasanya mereka yang paling antusias setelah kekasih dunia akhirat.

Selain empek-empek waloh, anak-anak juga suka sekali empek-empek Palembang. Hanya sayangnya, ummi tidak begitu ahli membuatnya. Biasanya hanya beli saja di pasar, di warungnya mbak Dini atau di Abdul Manaf dan di Tanjung Harapan. Ingin sekali belajar langsung terutama pada Kartika yang sering sekali mengunggah empek-empek Palembang (adaan, kapal selam, dan lain-lain). Suatu hari, ajarkan kakak, ya, dik.

LAILA SURYANI
SMPN 2 TEMBILAHAN HULU

KULINER DALAM CERITA