Sabtu, 30 November 2019
Pantaskah Surga-Mu
Muhasabah dalam Menghadapi Musibah
Jumat, 01 November 2019
Amparan Tatak Pisang
Itik Buruk Rupa
Itik Buruk Rupa
"Hei ... Itik Buruk Rupa, minggir!" teriak Aryo sengit sambil menabrakku. Terjajar ke dinding, kepalaku terantuk papan pengumuman. Sakit sekali. Rasa sakit yang membuat dua netraku mengeluarkan air.
"Keterlaluan kamu, Aryo. Apa sih salahku," kataku sambil menyusut airmata. Saat itu aku melihat pengumuman bersama teman-teman.
"Apa lo, salah siapa menghalangi jalanku. Sudah tahu Aryo and the Gank mau lewat, masih juga di tengah jalan. Lain kali cepat minggir, terutama elu, hei ... Itik Buruk Rupa." tudingnya ke mukaku.
"Kau ...." Aku hanya mampu berkata, lalu pergi meninggalkannya dengan hati penuh luka.
Bagus Aryo Putra, seperti namanya, wajahnya memang bagus. Tampan. Wajah Timur Tengah, mirip Nadiem Makarim, dengan kulit yang putih, membuat dia terlihat sempurna. Ditambah tubuh tinggi dan dada bidang, menambah nilai plus baginya. Sayang, kelakuan tak sebagus nama yang disandang, "Putra yang bagus dan bijaksana", begitu kulihat di akun google arti namanya.
Jahil, bikin onar, dan suka berkelahi. Entah berapa kali dia menghadap BK dan kepala sekolah. Orang tuanya juga kerap dipanggil, walaupun tak pernah datang. Sasaran utama kejahilannya adalah aku, Diah Putri Ayu, gadis kerempeng, berkulit hitam manis, berwajah biasa-biasa saja. Bukan hanya kejahilannya yang kudapat, namun juga bully. Setiap hari.
***
Kutermenung, ingatanku melayang, pada 20 tahun yang lalu, pada satu sosok, sosok lelaki yang berperan dalam mengubah penampilan dan menjadi upaya bagiku untuk sukses.
"Jangan sedih, Cantika. Tunjukkan pada dunia, terutama pada Gagah Putra Bangsa, cowok yang mengejekmu hampir tiap hari itu, bahwa ada yang lebih berharga dari sekedar kecantikan rupa, yaitu kecantikan hati. Ubahlah pikiranmu bahwa cantik itu rupa semata. Gantilah dengan sukses dalam karier dan juga rumah tanggamu kelak. Contohlah ibumu, yang cantik akhlaknya. Wanita hebat yang lemah lembut dan penuh kasih sayang. Kecantikan hatinya inilah yang membuat ayah tergila-gila pada ibumu," ujar suamiku panjang lebar.
Anakku tersenyum. Wajahnya ceria kembali. Nampaknya dia mulai menerima kata-kata ayahnya. Aku pun juga tersenyum. Kupandangi wajah suamiku, Bagus Aryo Putra, yang menatapku penuh cinta.
Aku, Diah Putri Ayu, si "Itik Buruk Rupa".
Laila Suryani
SMPN 2 TEMBILAHAN HULU
#FLASHFICTION
#BelajarmenulisFF
Gangan Asam Sembilang
Gangan Asam Sembilang
Ikan sembilang adalah anggota dari suku (familia) Plotosidae, suatu kelompok ikan berkumis (Siluriformes). Ciri khasnya adalah menyatunya sirip punggung kedua (sirip lemak), sirip ekor, dan sirip anus sehingga bagian belakangnya tampak seperti sidat. Dalam bahasa Inggris, disebut sebagai ikan kumis berekor sidat, "eel-tailed catfish".
Ikan sembilang termasuk jenis ikan laut. Ada 2 jenis ikan yaitu: ikan sembilang batu dan ikan sembilang lubang.
Ikan sembilang batu hidupnya di sela batu dan ikan sembilang lubang hidupnya dilubang-lubang yang dibuaatnya sendiri sementara ikan sembilang lubang merupakan ikan sembilang yang sudah dewasa.
Bentuk ikan ini hampir sama dengan lele ata limbat. Yang membedakanmya adalah sembilang mempunyai 3 patil, satu patil punggung dan dua di sirip. Ikan sembilang habitatnya di tepi laut atau muara sungai. Sedangkan lele atau limbat hidup di air tawar.
Patil ikan sembilang beracun, jika tergores atau tertusuk patil ikan sembilang maka wajah menjadi pucat, seluruh badan terasa panas dan susah tidur bahkan bisa kejang kejang. meskipun ganas racun ikan ini hanya menempel pada badan selama 24 jam, dan racun akan hilang.
Malam ini, kembali penulis mengajak kita mencoba kuliner banjar. Kali ini "Gangan Asam Sembilang".
Gangan Asam Sembilang mirip dengan pindang. Jika pindang dibuat dengan menggunakan bumbu yang diiris (sebagian ada yang menggiling atau memblender bumbunya), dimana bumbunya terdiri dari cabe merah, garam, jahe, kunyit, bawang putih, bawang merah, air asam, dan serai serta laos, maka gangan asam sembilang, bumbunya sangat sederhana, hanya terdiri atas garam, bawang merah, kunyit, serai, laos, dan air asam jawa saja dengan tambahan air untuk menjerangnya.
Bumbu yang digiling atau diblender ini, tinggal ditambahkan timun sebagai sayurnya. Rasanya asam gurih menggoda. Jika tak percaya, ayo dicoba. Pastinyaaa ... Endes banget dan bikin lapar. Ditemani nasi hangat dan sambal terasi, hmmm ... Yummy.
Laila Suryani, S. Pd
SMPN 2 TEMBILAHAN HULU