Selasa, 13 Agustus 2019

REFLEKSI

REFLEKSI

Lantunan ayat suci getarkan jiwa
Di rakaat demi rakaat
Perlahan airmata luruh
Sesak di dada
Teringat akan dosa-dosa yang ada
Pada bangga diri
Pada ikhlas yang kadang bertabur riya
Pada nurani yang kadang bercampur dengki
Pada kufur nikmat yang telah banyak diberi

Ya Robb ...
Mohon ampun atas semua dosa diri
Pada riya, kufur dan bangga diri
Pada dosa suami dan anak-anak
Pada dosa kedua orang tua
yang hidup dan telah tiada
Pada dosa saudara dan handai tolan
Pada dosa teman serta sahabat
Serta pada dosa pemimpin negeri ini

Ya Allah ...
Tiada tempat kami bergantung selain pada-Mu
Sungguh kami hanyalah hamba-Mu yang lemah
Yang sering lalai akan nikmat, karunia dan rahmat-Mu
Bimbing kami, anak, suami dan istri kami
Juga orangtua, saudara dan pemimpin kami
Jadikan kami hamba yang bersukur

La haulawala kuwwata ila billah
Tiada daya selain pertolongan-Mu, ya Allah

Tembilahan, 14 Agustus 2019
ISTISQO

Sabtu, 03 Agustus 2019

PAES IKAN JUARA

PAES IKAN JUARA

Cerita Ramadhan hari ke-sepuluh

Teringat kembali saat di desa, di Pengalihan-Keritang, puluhan tahun yang lalu. Begitu mudahnya mendapatkan ikan-ikan yang segar. Ikan-ikan yang langsung dibeli di sampan atau dibeli di penampungan ikan dan belum sempat bermalam di lemari es. Rasanya gurih sekali. Ada baung sungai, tapah atau ikan juara.
Semua segar karena belum terkena es, harganya juga murah. Selain ikan, udang galah atau lobster juga murah di sini. Beda banget kalau sudah sampai di Tembilahan. Harganya akan naik jadi 2x lipat. Jangan tanya kalau sampai di Jambi. Tambah mahal lagi. Udang tenggek yang biasanya di bulan selain ramadan seharga Rp. 60.000 s.d. Rp. 70.000, di Jambi bisa Rp. 120.000. Dan itu bukan udang tenggek, tapi udang kuning yang keras kulitnya. Hanya karena kepingin dan melihat tak banyak ikan yang ada di pasar saja, maka aku membelinya.

Lalu apa  hubungannya dengan cerita ramadan hari kesepuluh kali ini. Kenapa jadi ngelantur sampai membanding-bandingkan harga ikan dan udang sampai ke Jambi sana. Mau jualan? Atau mau protes soal kenaikan harga lauk pauk di bulan ramadan ini. Begitu mungkin tanyamu. Oooo... tidak. Bukan soal itu. Dengar ya gaes ceritaku, hihihi...(sambil mengikuti istilah seorang pria kelahiran Tembilahan, yang sedang viral di media sosial akhir-akhir ini. Siapa ya namanya... lupa tuh, hehehe).

Hari ini, sepulang sekolah, seperti biasanya, tempat yang pertama ku tuju adalah pasar. Shopping baju??? Oh, no. Pasar ikan dan sayur, tentu saja. Kukelilingi los-los tempat penjualan ikan. Ada ikan, udang,cumi, ayam dan daging. Kuperhatikan satu demi satu. Tak tahu mau masak apa hari ini. Ikan goreng plus yang disambal goreng sudah. Pindang sudah, bakar-bakaran sudah. Sop, saus pedas juga sudah. Asam pedas, sudah juga. Lalu apa lagi, pikirku. Keliling sekali lagi, ah... Siapa tahu dapat ide mau masak apa, pikirku sambil berjalan. Nun di sudut sana, di los ikan milik mamak Jaka, mataku tertumbuk pada seonggok ikan juara. Wah... akhirnya aku dapat ide. Di Pengalihan, aku sering mengolahnya menjadi pepes. Paes ikan juara.

Horeee... batinku bersorak. Anak-anak pasti suka, pikirku. Maka kubeli ikan tersebut, 2 ekor saja. Soalnya selain ikan, aku sudah membeli ayam dan cumi juga. Sedangkan untuk sayur, aku sudah membeli pakis. Rencanyanya akan kugulai. Gulai pakis juga disukai anak-anak dan suamiku. Apalagi kalau gulai tersebut ditambahkan dengan udang, akan terasa manis rasanya.

Nah... ngelantur lagi. Apa hubungannya cerita ini dengan kenangan di desa tadi???  Seperti belum nyambung. Ya...ya...ya... sebentar ya, dengarkan aku dulu. Belum selesai aku bercerita. Sabar ya. Sampai dimana tadi??? Oh, iya. Tadi aku kan bilang kalau aku lihat ikan juara dan dapat ide untuk masak hari ini. Ya, selain cumi, ayam dan gulai pakis, rencananya aku akan masak pepes (paes)ikan juara ini.
Banyaknya masakanmu, mungkin begitu tanyamu. Tenang, kawan. Belinya sedikit-sedikit kok. Kan bisa untuk stok di kulkas juga, hehehe

Apa tadi, paes ikan juara??? Iiih... tak enak, katamu. Soalnya ikan juara identik dengan... (tak usah disebut ya, ntar tak selera makan lagi). Yah... tidak seperti itu juga kaliiii. Bagi sebagian orang yang tak bisa memasaknya, ikan ini akan berbau. Tapi jika kita pandai, insya Allah tidak berbau. (Jadi, situ ngaku-ngaku pandai masak ya, katamu. Hehehe...bukan aku yang ngomong ya)

Tips memasak ikan juara agar tidak berbau itu ya, kuberi tahu nih, caranya adalah dengan tidak memotong ekornya. Begitu kata mamakku. Kalau dipotong ekornya, ikannya bisa bau. Apa hubungannya, katamu. Entahlah, aku pun tak tahu. Sampai hari ini, aku belum melakukan eksperimen terkait hal ini. Eeehhh... jangan cemberut. Mau dengar ceritaku tidak. Katanya kamu mau dengar cerita ramadanku. Bukankah hampir sepuluh hari ramadan, aku belum bercerita apa-apa padamu? Kuteruskan ya ....

Oke. Dengarkan, ya. Nah, ide tadi sudah ketemu. Sekarang bagaimana cara masaknya. Daun pisang untuk paes ikan tak ada. Kemana nyarinya ya. Dulu, di samping dan belakang rumah, ada pohon pisang batu dan pisang awak (bahasa Indonesianya apa ya, untuk istilah pisang awak ini). Tapi ..  sekarang sudah jadi halaman bersemen dan jadi garasi motor. Tapi untunglah, akhirnya di sudut pasar aku melihat ada yang berjualan daun pisang. Maka berhasillah aku masak paes ikan juara hari ini.

Tapi,sebelum masak tadi sore, ada sedikit accident, teman-teman. Gini ceritanya. Sepulang dari pasar tadi, karena ujian cuma 1 mapel dan pulang cepat, sambil menunggu waktu dzuhur, aku dan suami memeriksa buah-buahan yang ada di halaman. Selain mangga, belimbing, jambu dan pepaya juga ada pohon nangka dan markisa. Pohon nangkanya tinggi menjulang dan markisa yang menjalar masuk halaman tetangga. Kami lalu memutuskan untuk memotong ujung pohon nangka yang menjulang tersebut. Setelah suamiku menggergajinya, aku membersihkan dan memotong dahan-dahan  yang masuk rumah tetangga. Pohon markisa yang merambat juga kubersihkan. Soalnya jika dibiarkan, terkena pohon buah-buahan milik tetangga dan kabel saluran televisi.

Aku memotongnya dengan menggunakan gergaji. Sedang asyiknya memotong, kayu yang ku pijak patah, jadilah mata gergaji menancap di kulit, diantara kuku dan daging. Langsung membiru dan darah langsung mengucur. Badanku sampai gemetaran menahan sakit. Suamiku yang melihat, langsung memarahiku.

"Itulah, ikut-ikutan Abi kerja. Seharusnya biarkan saja Abi kerja, jangan ikut-ikutan. Mana kerja pakai baju kurung lagi."katanya. (Memang teman, sepulang dari pasar tadi, setelah mencuci dan memasukkan belanjaan, aku keluar rumah, membukakan pintu, karena suami dan si bungsu baru pulang. Belum sempat ganti baju).

Aku diam saja. Meringis menahan sakit dengan tubuh yang gemetar. Kucari-cari betadine, tak ada di kotak obat. Hansa-plast juga tak ada. Akhirnya setelah kucuci tanganku, ku ikat dengan secarik kain. Si bungsu Adly kemudian mencari-cari sesuatu di kamar si kembar, lalu dia menjumpaiku dengan hansa-plast dan perban di tangan. Kuganti secarik kain tadi dengan hansa-plast dan perban, tapi sakitnya masih terasa. Berdenyut-denyut. Untung suamiku sigap, dia ke warung dan pulang membawa betadine. Setelah kusiram dengan betadine dan ditutup dengan perban dan hansa-plast, denyutnya agak berkurang.

"Tak usah masak hari ini," katanya, "kita beli saja."

"Tak apalah," kataku. Nanti juga sembuh."

Dan Alhamdulillah...taraaaa... meski masih di bungkus perban dan hansa-plast dan masih perih terkena air dan garam, dibantu dengan pria terkece seantero jagat raya, semua yang kurencanakan tetap terwujud malam ini. Inilah, paes ikan juara. Sorry tinggal sebungkus ya, teman. Untuk sahur nanti, hehehe.

Jumat, 02 Agustus 2019

KATA TANPA EJA

Seakan habis semua kata
Tak ada lagi yang bisa kueja
Telah kutumpahkan semua rasa
Yang tak pernah kaupedulikan dan hanya kaubaca tanpa balas
Sekatapun

Habis ...
Habis sudah kata
Hampa sudah rasa
Tak ada lagi gumpalan harapan
Dan mimpiku selamanya jadi hayal
Sejurus kedepan kupandang alam kosong tanpa indah pelangi
Ataupun rimbunnya dedaunan. Gersang...
Segersang jiwaku kini
Ada setitik angan melintas
Andai di depan
Di tanah kosong itu
Tertanam pohon dengan daun yang rimbun Dan kau datang melambaikan tangan Untukku
Aku akan berlari merekah senyum
Melonjak girang
Melompat dalam rengkuhmu
Dan detik demi detik bibirku akan kembali mengurai rasaku
Dengan kepalaku nyaman di pundakmu

Ahhh...sekali lagi hanya angan
Aku tertunduk.
Tubuhku melemah ...
Dan aku tersungkur di tanah kosong ini
Tanpa dirimu
Hampa...
Tanpa warna

Pekanbaru, Saat Rindu Melanda

Laila Suryani

KHITAN

ADLY DAN KHITAN

"Aduuuhhh... sakittt..."teriak si bontot Adly, saat jarum suntik menusuk kulitnya. Ketegaran dan keinginannya yang sangat kuat sejak setahun yang lalu, gugur hari ini. Jatuh juga airmatanya akhirnya.

Sudah setahun yang lalu, Adly merengek-rengek padaku dan abinya untuk disunat. Tapi dengan pertimbangan kasihan karena masih kecil, niat itu kami tunda.

"Tahun depan saja, seperti abang-abang."kata abi Joni Sandra Thaib. Abang-abang kemaren juga sunat saat naik kelas 5 SD. Jadi adek sunatnya sama aza seperti abang-abang."lanjut abi lagi.

"Iyalah. Tapi abi janji ya. Janjinya seorang lelaki."kata dek Adly.

"Iya, abi janji. Janji seorang lelaki."sahut abi sambil tertawa. Aku pun juga tertawa.

Adly memang lucu. Bahasanya kadang tak terpikirkan oleh kami. Bahasa orang dewasa. Pikirannya juga. Kadang ada saja idenya yang tak masuk di akal dan tak terpikirkan oleh kami. Soal penanganan sampah dan jalan raya, misalnya. Dia pernah mengusulkan padaku agar sampah-sampah yang ada dan menggunung di Tembilahan untuk dijadikan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah.

Saat itu, kebetulan listrik sering mati hidup, mati hidup, tak jelas. Setiap hari dan setiap menjelang maghrib sehingga menyebabkan kami, ummat Islam kadang tergopoh-gopoh untuk menyiapkan penerangan. Menghidupkan genset, lilin atau lampu teplok.  Bahkan kadang-kadang, saat sholat maghrib, lampu mati sehingga terpaksa sholat dalam gelap. Terbayang kan, bagaimana rasa hati. Kesal. Apalagi kalau yang punya anak kecil atau bayi, saat sholat, debay atau anak-anak kecil berteriak ketakutan karena gelap. Wuiiihhh... bisa kesal setengah hidup dengan PLN.

Dan agar jalan-jalan di Tembilahan tidak cepat rusak, dek Adly juga mengusulkan agar truk-truk tidak masuk ke jalan-jalan utama dalam kota.

"Pakai mobil-mobil kecil saja, Ummi."katanya. Agar jalan-jalan tidak cepat rusak. Adek sering liat, kadang jalan baru saja diaspal, tak sampai sehari kadang sudah dilalui truk. Makanya jalan kita cepat rusak."sambungnya lagi.

Aku tersenyum-senyum saja mendengarkannya.

"Jadi, mi. Kalau sampah-sampah dijadikan Pembangkit Tenaga Listrik, Tembilahan jadi bersih dan jalan-jalan juga tidak cepat berlubang karena dilalui truk."lanjutnya lagi.

Aku manggut-manggut. Benar juga. Permasalahan sampah dan jalan yang buruk merupakan masalah utama di daerah kami ini. Kadang jalan sudah diperbaiki, tapi truk keluar masuk sehingga mudah rusak. Begitu juga sampah. Setiap pagi banyak sampah menggunung, bahkan kadang dalam sungai, got dan parit yang bisa merusak ekosistem, polusi udara dan rusaknya biota sungai dan laut. Walaupun sedari subuh sudah dibersihkan oleh petugas kebersihan, sebentar saja sampah sudah menggunung kembali. Perlu kesadaran yang kuat dari masyarakat terkait masalah ini. Kadang, keacuhan masyarakat dan menganggap masalah sampah hanya tanggung jawab pemerintah dan merasa sudah kewajiban petugas kebersihan untuk membersihkannya, menyebabkan sampah tetap menghunung di daerah ini. Yaaahhh... begitulah. Seharusnya ada kerjasama dari segala pihak demi terciptanya kota yang bersih dan indah.

Oke, sudahlah...  Kita tinggalkan masalah jalan dan sampah. Kita kembali pada masalah Adly hari ini. Sunat atau khitan.

Setelah menghubungi mantri sunat, Wiwid anak bu Hj. Hj Zulkemi Bunda Puja dan sama-sama sepakat bahwa pagi ini, kira-kira pukul 8.00 wib, prosesi khitan akan dimulai. Dari pagi, si bungsu Adly sudah bersiap-siap. Pagi-pagi sudah mandi dan tak sabar menunggu om Wid datang. Beliau mengabarkan bahwa beliau akan terlambat sedikit karena ada suatu keperluan. Tepat pukul 9.00 wib, om Wid datang. Suasana pagi yang teduh, menjadi dingin dengan jatuhnya butir-butir air yang gugur ke bumi, seakan ingin menyaksikan tumpahnya darah yang menandakan kesempurnaan sunah seorang pria dalam agama  Islam dimulai. Didahului oleh pembacaan doa Selamat oleh abi Joni Sandra Thaib dan Shalawat yang dihembuskan ke ubun-ubun Adly, prosesi pun dilakukan. Meski diiringi dengan teriakan kesakitan diawalnya saat pertama jarum suntik menancap, prosesi ini terlaksana dengan baik. Walaupun terus terang saja, sebagai ibu, aku tak berani menyaksikannya. Sama tak beraninya saat abang Dhiaul Fakhri Al-Aslam, Rifqi Ihsan Muzakki dan Rizki Ihsan Musyaffa pertama dikhitan.
Aku hanya mondar-mandir saja di kamar, sampai proses itu berakhir. Alhamdulillah, nak. Kini Adly sudah melaksanakan salah satu sunah dalam agama kami dan mulai hari ini, Adly sudah sah untuk mengimami sholat. Selamat, bontot ummi sayang. Luv U. Namun ada satu yang menjadi masalah, si bungsu Adly tak pandai minum obat. Satu-satunya obat yang mau diminumnya hanyalah Pimtrakol Syrup. Apapun jenis penyakit yang dia derita, obat batuk pilek dan influenza inilah satu-satunya obat yang menjadi media penyembuh baginya. Percuma saja dia dibawa berobat ke dr. karena obat-obat tersebut selalu terbuang percuma. Sama seperti kali ini. Walau dibujuk berulang kali, dia tetap kekeuh dengan pendiriannya.

Akhirnya, karena kasihan melihat dia yang merasa perih karena bius yang sudah habis, aku memberinya pimtrakol. Dengan keyakinan bahwa Allah Maha Penyembuh dan ditambah keyakinan yang mendalam dari dalam diri Adly sendiri, aku bertawakal kepada Allah bahwa tanpa obat-obatan yang sesuai, dia akan sehat. Dan benar saja, setelah tertidur sebentar, dia sudah bangun dengan segar dan melapor ke abinya bahwa dia sudah sembuh. Alhamdulillah.
Bukankah ketentuan Allah sebagaimana prasangka hamba-Nya. Dek Adly selama ini meyakini dengan Bismillah dan minum Pimtrakol, apapun sakit yang dia derita akan sembuh. Baik demam, plu bahkan cacar sekalipun. Memang jauh-jauh hari, abi kuatir sekali karena susahnya dia minum obat. Tapi aku berhasil meyakinkannya bahwa Adly akan baik-baik saja.

"Masak, dari bayi sampai umur 10 tahun ini, obat yang diminum pimtrakol terus."protes Abi Joni Sandra Thaib.

"Tak apalah, yah. Kalau dia yakin bahwa dengan minum pimtrakol, dia bisa sehat, biar saja. Lagipula, dia jarang sakit. Itu pula kelebihan yang Allah berikan kepadanya karena dia susah minum obat."

Abi akhirnya diam dan tak bicara lagi. Diam karena si bungsu sudah tertawa-tawa ceria. Diam, mungkin karena penjelasanku masuk di akal sehatnya. Alhamdulillah.

PADAMU CINTA

PADAMU CINTA
(Persembahan 20 tahun Wedding Anniversary)

Berpuluh tahun telah kita lalui bersama. Jangan tanya seberapa terjal jalan kita, seberat apa hari-hari kita lalui dalam mengarunginya. Bersama, satu nahkoda, merajut cinta dan membesarkan buah hati kita, bukanlah perkara yang mudah. Kita, sama-sama sosok tak sempurna.  Aku dan kamu sangat berbeda. Kau yang keras namun penyayang. Aku yang terlihat lembut kadang kekanakan. Aku yang suka merajuk dan kau yang mudah terpancing. Sungguh, bukan paduan yang sempurna.  Latar belakang, pola pandang dan cara bersikap membuat kita berbeda. Namun karena perbedaanlah membuat hidup kita berwarna, sehingga membentuk karakter tersendiri bagi anak-anak kita.
Jangan katakan bahwa perjalanan cinta kita baik-baik saja. Bersama dalam hitungan puluhan tahun, berselisih pendapat , bahkan saling rajuk.  Namun semua tetap selalu termaafkan karena dari semua perbedaan, kita memiliki satu persamaan, "mudah memaafkan dan melupakan semua kesalahan". Dan itu semua sudah cukup untuk sebuah "CINTA".

"Padamu Cinta", kuberikan dengan segenap rasa 'tuk jadi kenangan untuk anak cucu kita, bahwa kita adalah "Sang Pemuja Cinta".

Tembilahan, Menjelang akhir November 2018

Laila Suryani

SAAT RINDU MENGHAMBA SUKMA

Menatapmu...
Ada asa yang tak putus
Harap yang tak sampai
Menggeliat dalam tatapan sepi

Memandangmu...
Geliat rindu mencekam
Bertabur riak nan sunyi
Menggelora dalam asa penuh harap

Mengingatmu
Adalah sejuta tabur bunga
Tuk persembahkan
Di hari pertemuan kita nanti

Yogya, Saat Rindu Menghamba Sukma

Laila Suryani

Rizki Ihsan Musyaffa

Rizki Ihsan Musyaffa

Si kembar satu ini, paling diandalkan di rumah. Sifatnya yang penyabar serta ringan tangan membuat dia paling banyak mengerjakan segala hal di rumah karena selain kamarnya yang dekat dengan kamarku dan dapur, dia paling mudah di suruh. Segala hal. Baik itu ke warung, mengerjakan pekerjaan rumah, sampai membuat presentasi dan desain cover bukuku. Dia juga sabar mengajariku di bidang IT. Bahkan sanggup sampai tengah malam. Meski mengantuk, dia tak pernah membiarkanku dalam kebingungan. Rajin mengaji setelah sholat maghrib dan melakukannya dengan istiqomah. Bahkan saat bepergian kemana-mana dan jika dia ada di rumah, dia akan menawarkan diri untuk mengantar.
"Nanti Ummi susah pulangnya kalau menjelang malam. Biar Adek yang antar."
Anak-anak tahu jika aku agak takut mengendarai motor pada malam hari atau menjelang malam. Mata yang minus yang menjadi penyebabnya. Biasanya jika sore hari, aku berkunjung ke rumah mamak dan sampai malam hari, tanpa di minta anak-anak akan menjemput. Jika mereka lupa, selalu ada abi Joni Sandra Thaib yang mengingatkan. Terkadang abi yang menjemput berdua dengan Dhiaulfakhri, rifqi atau rizki. Mata minus ini juga kadang menyebabkan diri ini sering dinilai sombong. Wajah orang lain sering membayang.
"Sombongnya, pang!" Kata-kata itu sering kudengar dan biasanya setelah mendengar suara mereka, aku baru "ngeh". Baru sadar siapa yang mengajak tersenyum padaku, hehehe... Jadi tulisan ini juga mewakili diriku saat pembaca tersenyum padaku dan tidak kubalas, berarti di jarak sepersekian, aku tak bisa melihat jelas wajah teman sekalian.
Kembali ke soal Rizki tadi. Anak ummi yang satu ini, entah kenapa, badannya tak mau gemuk. Padahal sering minum susu, makan cemilan dan diberi vitamin juga. Perutnya yang mudah kenyang mungkin salah satu penyebabnya. Mungkin juga turunan dari abahku, Sabri H. Darmawi atau dari kayek M. Thaib Asrie dan nenek Habsyah dari pihak abinya. Lihat saja, makwoh Mawarni Thaib, Iren Sapat, tante-tantenya, yang selalu terlihat langsing. Berharap dia bisa memiliki tubuh yang ideal karena untuk masuk kepolisian, membutuhkan tubuh yang ideal.

Godog Sukun

Pernah makan sukun goreng atau keripik sukun? Mungkin rata-rata banyak orang akan berkata "pernah". Tapi godok sukun, mungkin tidak semua orang pernah mencicipinya. Sore ini mencoba untuk membuat godok sukun dari sukun yang sudah masak akibat lambat dieksekusi. Sukun yang dicampur dengan tepung dan sedikit garam halus kemudian dijadikan adonan bulat-bulat dan akhirnya digoreng menjadi santap sore ini. Ditemani sepiring kecil juruh (makanan khas terbuat dari nira kelapa) dan secangkir teh goyang tanpa gula. Rasa sukun yang manis dicampur dengan sedikit garam serta tepung ini terasa cukup lezat . Cocok dihidangkan dengan teh tanpa gula karena sudah cukup manis apalagi dimakan oleh orang-orang yang manis.

Godok sukun goreng ini cukup mengenyangkan karena banyak mengandung karbohidrat, jadi disarankan untuk tidak lagi mengkonsumsi nasi karena buah sukun mengandung gizi yang cukup tinggi.

Dari satu buah sukun yang beratnya sekitar 1.500 gram, diperoleh daging buah yang dapat dimakan sekitar 1.350 gram dengan kandungan karbohidrat sekitar 365 gram. Diperkirakan sekali makan per- orang diperlukan sekitar 150 gram beras (setara dengan 117 gram karbohidrat), sehingga  satu buah sukun dapat dikonsumsi sebagai pengganti beras untuk 3-4 orang. (sumber google.com)

Sukun atau di Eropa dikenal dengan nama "Breadfruit"(buah roti) adalah tanaman hutan yang memiliki tekstur yang halus dan lembut, terdapat hampir di seluruh nusantara.  Asal-usul sukun (Artocarpus altilis) diperkirakan dari Kepulauan Nusantara sampai Papua yang kemudian menyebar ke pulau-pulau di Pasifik. Dari sana kemudian menyebar ke daerah tropis lainnya. (google.com)

Selain buahnya, daun sukun juga di-klaim bisa menyembuhkan berbagai penyakit seperti : ginjal, diare, dan lain-lain.

Kembali ke godog goreng, pembaca.
Godog sukun yang dimakan sore ini dan sukun goreng yang dimakan 2 hari yang lalu adalah sukun yang diambil dari pohon yang tumbuh diseputar tanah rumah mama Meskipun tidak dipelihara, tumbuhan ini  tumbuh subur dan selalu memberikan buahnya. Lebat.

Menikmati godog sukun goreng  bersama keluarga sambil menikmati sore yang indah dan dihibur oleh tayangan "Tukang Ojek Pengkolan". Sungguh nikmat yang patut untuk disukuri.

"Fabiayyi ala irobbikuma tukazziban" dan nikmat  manakah lagi yang akan kau dustakan.

Btw, selain godog, keripik, dan daunnya bisa dijadikan obat, adakah pembaca yang tahu manfaat dari pohon dan buah sukun ini.
Tinggalkan "komen" di kolom komentar, ya....

SEPASANG SAYAP DARI SURGA

SEPASANG SAYAP DARI SURGA

Sepasang sayap yang kau rentangkan, mak
Adalah benteng tubuhku
Kala hujan dan panas
Kala sakit dan gundah
Sepasang sayap yang kau bentangkan
Adalah perisai bagi luka yang mereka torehkan
Pelindung di siang dan malamku

Mak...  hari ini adalah Hari Kartini
Dan seluruh Indonesia memperingatinya
Namun
Bagiku engkau lebih sosok itu
Engkaulah Kartini-ku
Kartini jaman dulu dan kini
Yang takkan pernah tergantikan dengan sosok siapapun
Apapun dan kapanpun

Mak... kau sosok tak bermahkota
Bidadari hati tanpa
Cinta dan sayangmu
Adalah sepasang sayap yang sangat berarti bagiku
Sepasang Sayap dari surga-Nya

Allahummaghfirli
Waliwalidayya
Warhamhuma
Kama rabbayani syaghiro
Bahagia selalu, Mak
Di sisa usiamu
Pintaku dalam doa
Allah limpahkan keberkahan dan kemuliaan serta kebahagiaan
Dunia dan Akhirat
Aamiin

Tembilahan, Hari Kartini

Mamakku, Kartiniku

Laila Suryani

KITA DAN DEDAUNAN

Dedaunan yang jatuh ke bumi
Kering
Busuk
Mati
Seperti itu juga kita
Pada akhirnya akan mati dan membusuk
Tak berharga
Dari tanah kembali ke tanah
Lalu ...
Apa yang harus disombongkan
Yang harus dibanggakan
Hanya iman dan kebermanfaatan di dunia yang bisa menambah nilai
Pada keberadaannya

Tembilahan,  Oktober 2018

Laila Suryani Belajar Menulis

DOA UNTUK PEJUANG LITERASI

DOA UNTUK PEJUANG LITERASI

Rasa itu masih tetap sama
Seperti pertama kali mengenalmu
Aula LPMP Pekanbaru
Jadi saksi bisu
Pada perjuangan awalku
Merajut literasi di Indragiri

Engkau yang begitu menggebu
Bersorak, mengajak, menyemangati
Hingga rasa dalam diri ini
Bahkan banyak lagi
Bergemuruh bangkit dan menjejak bumi literasi Indragiri

Teruslah menjadi srikandi,  adikku
Saat sayapmu patah
Akan ada sayap lain kan menggantikannya
Saat kakimu lemah
Akan ada tangan-tangan yang bersedia menopangmu
Dan saat perahumu hampir karam
Ada kayuh tangan lain yang akan membantumu berlayar

Barakallahu fii umriik
Semoga Allah senantiasa merestui perjuanganmu

Dari segenap hati yang tulus
Kupersembahkan untaian kata ini untukmu
Selamat berjuang untuk negeri
Dari kami yang menyayangi.

ILHAM

Saat sebagian kecil generasi muda berbuat hal-hal yang tidak baik, selalu ada anak-anak yang mau berbuat untuk sesama. Hal seperti inilah yang menguatkan kita untuk terus berbuat untuk mereka

Saat aku dan Wirdayane Tanjung menghampiri Zulfikar, anak suku Duano yang telah dan sedang menulis tentang suku sekaligus sejarah suku tersebut, anandaku (kami), M. Ilham dan Kurnia Illahia Mulyanda dari SMPN 2 Tembilahan Hulu juga ada di dekat Zulfikar dan mendengar langsung tanya jawabku dengannya. Jiwa sosial dan empati yang mendalam terhadap sesama, membuat Ilham sore tadi mengirim chat di WA pribadiku. Anak kami ini memang dikenal sebagai siswa yang baik, pintar, cerdas dan berjiwa pemimpin. Mudah tergerak untuk membantu sesama.

"Assalamualaikum, Maam. Ilham sudah buatkan desain covernya,"katanya.

Di samping memberitahu tentang desain cover yang dibuatnya, dia juga memberitahu bahwa tulisan Zulfikar tersebut masih tertinggal di kampungnya, desa Sungai Bela dan akan diambilnya pada 6 Mei nanti. Seingatku memang tanggal tersebut memang libur awal puasa dan mungkin kesempatan itu akan dipergunakannya untuk mengambil naskahnya.

Baiklah, nak. Kita tunggu naskahmu. Dan untukmu, Ilham anakku, tetaplah menjadi pribadi yang baik, suka menolong sesama. Sebentar lagi engkau akan meninggalkan sekolah kita dan melanjutkan ke Jakarta, mengikuti kedua orang tuamu. Maam senantiasa bangga padamu dan Nia. Nia yang banyak menulis cerpen dan puisi dan sudah terkumpul 1 buku dan dirimu yang berjiwa pemimpin. Doa maam senantiasa untuk kalian berdua. Sukses selalu dan semoga Allah melapangkan jalan kalian menuju kesuksesan. Aamiin

DONAT MADU DAN SETANGKAI KEMBANG

Donat Madu dan Setangkai Kembang

Entah berapa lama aku tertidur dengan mukena yang masih melekat di tubuh, saat lamat-lamat kudengar ketukan pintu diiringi ucapan salam
"Assalamualaikum. Ma'am ... Ma'am ...."
"Wa alaikum salam," sahutku setengah mengantuk, "siapa, ya?"
Sambil berjalan dan membukakan pintu.
"Kami, ma'am."
Tampak Wiana, Tiara dan Rara di depan pintu dengan 2 kantong berisi sesuatu.
"Ada apa, nak."
"Kami kemarin lupa ngasih sesuatu untuk ma'am," sahut Tiara.
"Masuk dulu. Sebentar, Ma'am bukakan pintu depan."
Bergegas aku ke depan dan membuka pintu.
"Ayo, masuk. Maaf ya, kemarin Maam menyangka kalian sudah pulang. Mungkin tidak jadi foto studionya. Karena tidak melihat kalian, Maam pulang ke rumah."
"Iya, Maam. Kami nunggu Maam juga. Cuma sebagian dari kami ada yang ke studio, daftar."
"Maam lihat-lihat ke lapangan, tak ada yang nampak. Makanya Maam pulang.Oh, ya ... Gimana kata tukang fotonya, apa bisa diselipkan foto Ma'am di sela-sela kalian."
"Bisa, Maam. Jadi di tengah-tengah,  ada kursi yang dikosongkan. Nanti di situ, diselipkan foto maam."
"Yalah ... Maam mau ke sana lagi, sudah di rumah dan ganti baju. Lagipula belum sholat dzuhur."
"Iyalah, Maam."
"Tunggu sebentar, ya. Maam punya mangga. Metik tadi pagi dan sudah masak. Tadi Maam masukkan ke kulkas." Sambil berjalan ke dapur, kubuka kulkas dan mengambil mangga, piring dan pisau.
"Cuci tangan kalian dulu di keran depan. Biar Maam kupas mangganya. Biasanya mangga Maam ini manis banget. Ayo, dimakan."
Lalu mengalirlah cerita mengenai kelanjutan sekolah mereka. Juga tentang satu temannya yang terpaksa menunda untuk melanjutkan sekolahnya karena hanya hidup dengan nenek dan abangnya yang berpropesi sebagai nelayan yang kini pun sering sakit-sakitan.
"Tapi, dia tampaknya biasa saja, Maam. Ceria."
"Ya, itulah hebatnya dia. Dia sanggup tidak makan, asal semua  perlengkapan dan tugas sekolah tersedia. Bahkan, saat les pun dia sanggup tak makan siang karena tak ada uang untuk beli nasi dsb-nya. Begitulah semangatnya menuntut ilmu."
"Kami kalau sudah sarapan pagi, biasanya tahan sampai sore, Maam, begitu katanya, saat Maam tanya usai Maam mengajar di kelasnya."
"Tak bisa begitu, kata Maam. Belilah makanan. Kasihan, dia itu nak. Teman-teman kalian banyak yang bernasib tidak seberuntung kalian. Sama dengan " ...", rumahnya jauh. Di Subrantas sana, masuk lorong pula. Dia jalan kaki ke sekolah kita dan juga jarang jajan. Beberapa kali Ma'am jumpa dan mengantarnya. Ma'am salut pada mereka. Gigih memperjuangkan masa depan. Percayalah pada Ma'am, mereka ini kelak akan menjadi orang-orang yang sukses. Keinginan mereka keras. Jiwa mereka kuat. Pesan ma'am pada kalian bertiga, mumpung orangtua kalian masih kuat. Kehidupan lebih baik, jangan sia-siakan pengorbanan orangtua."
"Hei ... Makan lagi mangganya. Habiskan. O, ya ... Tadi bawa apa. Yuk, kita foto. Tapi ma'am pakai mukena gini saja, ya?" kataku memecah kesunyian karena melihat mereka terpekur meresapi nasehatku. Kasihan mereka. Maksud hati ingin bergembira denganku dengan memberi hadiah berupa bunga dan sekotak donat madu. Siswa bertiga ini memang perhatian sekali. Sering menanyakan, apakah aku sudah makan siang, saat mengajar terobosan di kelasnya. Waktu yang sedikit antara jam terakhir dan les sore yang hanya berkisar 20 menit, kadang hanya sempat dipakai untuk sholat dzuhur saja, sedangkan aku mengajar sampai jam terakhir. Makan di waktu istirahat kedua, kadang masih terasa kenyang, namun harus dilakukan jika tidak ingin kelaparan saat selesai terobosan. Kadang mereka membelikanku sesuatu. Lengkap. Dari roti sisir sampai ke susu kotak. Bukan cuma satu, bisa 2 sampai 4 buah. Biar gurunya kenyang kali ya. Kalau satu, tak kenyang, habis gurunya gendut, mungkin begitu pikir mereka. Hahaha ... Tapi apapun itu, asiknya menjadi guru itu di situ. Saat diperhatikan, disayang oleh siswa sendiri dan ini pasti tidak ditemukan di propesi lainnya. Tak percaya??? Cobalah, menjadi guru.

Tembilahan, 02 Mei 2019

Selamat Hari Pendidikan Nasional

Laila Suryani




AKU DAN PRESENTASI VCT

Ikan Sembilang Santan Bakalok... khas Banjar Nagara di Virtual Coordinator 2 SEAMEAO SEAMOLEC

Materi "Ikan Sembilang Santan Bakalok", kuliner Banjar Nagara, hadir di VC Indonesia 2 Seamao Seamolec.
Materi kedua yang coba penulis  presentasikan setelah sukses berbagi di materi "Menebar Aura Positip Melalui Literasi Menulis". Jika sebelumnya, penulis berkolaborasi dengan Marliah Sarleni, maka dari IGI Inhil berkolaborasi kembali, kali ini dengan Wirdayane Tanjung, penulis "Cappucino Cincau"dan Yarni N, si "Tangga Nol".

Di sesi 1, peserta VC 2 begitu antusias bertanya tentang Literasi sehingga harus diingatkan oleh bu Anita Kaltara, bu lurah VC 2, karena melewati waktu. Di sesi ini, penulis dan Marliah, selaku moderator bercerita tentang IGI, khususnya Inhil, Sagusaku dan Gelis. Banyak yang tertarik dan ingin bergabung di pelatihan menulis atau Gerakan Literasi Sekolah. Ada yang bertanya tentang buku, penerbit, serta angka kredit jika menulis buku. Semua, Insya Allah dijawab dengan baik dan berlanjut dengan "japri" di WA.
Sukses menyampaikan materi di sesi 1, esoknya penulis mencoba menyampaikan materi "Ikan Sembilang Santan Bakalok".
Kuliner banjar yang mungkin sudah tidak "update" lagi karena sudah tergilas dengan "junk-food", "fast-food" dan makanan siap saji lainnya.
Berupaya memperkenalkan kearifan lokal asal usul penulis, sesuai dengan permintaan Kadispora Inhil, yang telah mengapresiasi "Gadis Jerambah" sebagai novel yang mengangkat tema kearifan lokal daerah Inhil. Novel yang berlatar daerah Jambi dan Indragiri Hilir dengan "jerambah-jerambah"-nya.

Untuk pembaca yang penasaran dengan kuliner ini, silakan membaca lebih lanjut. Kuliner sederhana dengan rasa yang menggoda, mampu mendobrak selera makan yang sedang bermasalah. Tak percaya???Coba saja. Dijamin enak dan bikin nagih.

Berikut ini penjelasannya

Ikan Sembilang Santan Bakalok, adalah masakan khas suku Banjar Nagara. Rasanya yang segar, karena dipanggang dan ditambahkan dengan pati santan yang dicampur sedikit air menjadikannya tambah segar. Kelezatan dan kenikmatannya semakin bertambah karena ada irisan bawang merah dan cabe rawit. Ditambah dengan sedikit asam jawa dan terasi serta sedikit garam, membuat rasanya jadi semakin gurih. Manisnya santan yang berpadu dengan pedasnya cabe, rasa asam dari asam jawa dan gurihnya terasi serta sentuhan garam membuat makan siang anda akan semakin nikmat. Yuuukkk dicoba, resep bahari turunan nenek moyang suku Banjar Nagara

BAHAN :

1. Ikan Sembilang
2. Cabe rawit, secukupnya
3. Bawang merah +/- 4 buah
4. Terasi
5. Asam jawa
6. Pati santan
7. Garam secukupnya
8. Arang untuk membakar ikan
9. Anglo/ tempat bakar ikan

Cara membuat :
1. Bersihkan ikan sembilang, lumuri dengan garam dan asam jawa
2. Sebelum ikan dibakar, siapkan anglo dan arang. Bakarlah arang sampai menjadi bara.
3. Sambil menunggu arang menjadi bara, kita bisa menyiapkan cacapan/kuah dari ikan sembilang bakar tersebut.

Cara membuat cacapan/kuah/cocolan Ikan Sembilang Santan Bakalok

1. Iris bawang merah dan cabe rawit
2. Masukkan ke dalam pati santan  yang sudah ditaburi garam. Beri air sedikit.
3. Tambahkan terasi dan sedikit asam jawa.
4. Masukkan ikan sembilang yang sudah dibakar ke dalam santan tersebut.
5. Ikan Sembilang Santan Bakalok siap disantap

BARBIE SHOLEHA DI AL-MUAWANAH

Barbie Sholeha di Al-Muawanah

Manisnya gadis kecil ini. Cantik seperti boneka barbie. Dengan mukena pink motip bunga kecil-kecil , dia begitu cantik. Tingkahnya juga cantik. Disodorkannya tangannya yang mungil ke kami. Mengajak salaman. Mencium tangan orang yang lebih tua.  Mengikuti tingkah jamaah yang setelah sholat isya yang saling bersalaman satu sama lain. Lucu sekali tingkahnya. Dia akan mencuil jamaah yang belum menyodorkan tangan padanya. Bukan karena jamaah tersebut tak peduli padanya tapi karena mereka juga sedang sibuk bersalam-salaman dengan jamaah yang lain. Pas digiliranku, ku sempatkan menciumsambil memujinya. "Anak pintar."kataku. Jadi anak sholeha, ya nak."sambungku lagi. Dia mengangguk dan tersenyum dan kembali melaksanakan aksinya. Aksinya baru terhenti ketika jamaah ingin melaksanakan sunah ba'diyah. Dia langsung lari ke tempatnya kembali. Kalau tidak, mungkin semua jamaah akan disalaminya. Aksi ini kembali dilakukannya begitu selesai sholat witir. Saat semua jamaah beranjak pulang, gadis berusia kira-kira 2 tahunan ini kembali menyalami semua orang. Sabar menunggu sampai jamaah menyambut uluran tangannya. Duh... gadis kecil yang pintar. Tanpa diajari, dia menyalami semua orang. Kulihat ibunya hanya membiarkannya saja. Tak menyuruh ataupun melarang. Nampaknya gadis kecil ini terdidik dengan karakter yang baik di rumahnya. Tak sedikitpun dia ribut atau bertingkah selama sholat berlangsung. Didikan yang baik di rumah, berimbas pada sikap anak di luar rumah karena pilar utama (guru utama/ madrasatul ula) adalah Ibu. Didikan seorang ibu yang baik, doa yang baik, insya Allah akan mengantarkan anak pada kesuksesan dan kebahagiaan si anak tersebut pada akhirnya. Wah... kalau dikasih anak seperti ini, nampaknya aku tak akan menolak. Hehehe...

#ceritakemarin
#barusempatnulisdanposting
#harikesembilanramadan

SAAT DIRIMU BERANJAK PERGI

Mentari ramadan perlahan surut
Seiring gemuruh takbir yang mulai berkumandang
Ada tetes airmata yang perlahan luruh
Tangis kesedihan pada jiwa yang tak rela kau tinggalkan

Ramadan ... Ijinkanku memelukmu erat
Mengurai tangis akan rindu tuk kembali lagi
Menghantarmu pergi
Jauh ...
Dengan derai airmata

Berharap kau akan kembali
Pada warna
Pada pernak pernik keindahanmu
Di malam penuh rahmat
Dalam kasih sayang Sang Pencipta
Pada malam maghfirah
Dimana berjuta kasih sayang Robb
Penuhi hari dan malammu
Penuh ampunan
Pada jiwa penuh dosa
Pun pada itqun minannar
Pembersih diri tuk raih kebersihan jiwa
Pada surga yang diimpikan semua

Ramadan ...
Rinduku tak berujung
Tak bertepi ...
Di penghujung langkahmu
Kumasih menginginkanmu
Merindukan hari dan malammu
Kini ...
Saat kau meninggalkan diri ini
Terasa semua hanya sekejap mata
Sedang diri tak puas menghamba

Kusadari betapa engkau kadang tersiakan
Terlalaikan ...

Ijinkan sekali lagi kupeluk dirimu erat
Dan berjanjilah untuk kembali menemuiku lagi
Di sini

Tembilahan, 30 Ramadan 1440 H/04 Juni 2019

Laila Suryani

Dari "Laila Suryani Belajar Menulis".

TITIPAN

Semua titipan
Kamu titipan
Dia, aku, juga
Titipan

SONIAN

Dari "Laila Suryani Belajar Menulis".

DUHAI JIWA

Duhai jiwa
Yang kadang lupa
Tersesat dalam gelapnya
Terpenjara dalam nafsunya
Terpuruk dalam kubangnya
Terlena dalam kilaunya

Dunia
Awal dan akhir
Bisa jadi kini, esok atau nanti

#selfreminder
#selfreminding
#forme
#gadisjerambah

Untuk jiwaku yang sering lalai
Dari "Laila Suryani Belajar Menulis".

RASA TAK PERNAH SALAH


Rasa Tak Pernah Salah

1. Rasa landa jiwa
Benar adanya
Salah tempat
Letaknya

2. Takkan hapus rasa
Hanya untukmu
Takkan bahagia
Bersama

3. Buang rasamu
Jangan gangguku
Cari bahagia
Tanpaku

4. Bukannya tak pantas
Rasa yang hadir
Letak rasa itu
Mustahil

Tiba-tiba terinspirasi
SONIAN

Tembilahan, 10 Juli 2019
Laila Suryani Belajar Menulis


PUJA PUJI

Puja puji

Betapa Aku takut pada puja puji
Yang melambung tinggi
Melenakan sekaligus memabukkan
Hingga sampai lupa diri

Betapa Aku takut pada puja puji
Yang menjadi jalan bagi yang benci
Untuk mencari salah dan mengorek aib diri

Betapa Aku takut pada puja puji
Membuat istidradj pada diri
Hingga lupa pada awal kehidupan
Yang kan berakhir pada kematian

Sungguh betapa ngeri
Pada begitu banyak puja puji
Membuat gamang seakan berada di puncak gedung tinggi

Menjadi jalan kebencian
Pada hati
Menjadi sandungan tuk melangkahkan kaki

Robbi ...
Lindungi diri ini
Pada sombong diri
Pada rasa ingin dipuji
Pada istidrodj yang membuat hati mati
Pada "Akhir" yang pasti

Titimangsa : Tembilahan, 20 Mei 2019

Laila Suryani Belajar Menulis

EUPORIA DAN PETAKA

Euforia dan Petaka

Betapa besar harapan orng tua pda dirimu, Nak
Pada masa depanmu
Pulanglah lagi
Stop merayakan kelulusan dengan berkonvoi ria begitu

Lihatlah,temanmu sudah tak bernyawa akibat konvoy
Pulanglah lagi
Peluk cium orng tuamu dan bersujudlah kepada pencipta-Mu Sebagai tanda syukur kepada Sang Pencipta
Dan rasa sayang kepada orangtua yang telah bersusah payah menyekolahkan dan membesarkanmu
Hargailah setiap tetes keringat dan pengorbanan mereka
Pulanglah lagi, anakku

Tembilahan, Mei 2017
Saat Euporia dan Petaka Kelulusan

SURAT UNTUK KESAYANGAN

Duhai cinta
Yang jiwamu ada dalam jiwaku
Tetaplah bersama
Sampai ke jannah-Nya
Mencintai dan dicintai
Karena, oleh, dan untuk-Nya

SURAT KEPADA KAWAN


Surat kepada Kawan

Salahkah aku
Jika hari-hariku tak sama sepertimu
Salahkah aku jika jam kosongku kuisi dengan hal lain
Ke pasar membeli lauk untuk keluarga
Mengisi waktu dengan belajar online
Atau menulis cerita di "Color Note"ku

Salahkah aku
Jika tak terus berada di ruangan bersamamu
Untuk terus ikuti celoteh dan tawamu
Bercerita tentang kurangnya orang lain
Atau berkeluh kesah tentang ini dan itu

Salahkah aku yang terkadang
Beraktivitas di luaran
Yang katamu hanya hebat di luar sana
Namun tak ada artinya bagimu

Kawan ...
Semua serba kurang bagimu
Diriku, dirinya dan diri orang lain
Meski kulakukan semua untukmu dan tempat kita bernaung

Kawan ...
Tak tahukah engkau
Betapa kalang kabutnya aku
Mengatur waktuku
Menyeimbangkan semua kewajiban
Agar semua mendapatkan haknya

Kawan ...
Tak pernah sekalipun kutinggalkan tugas-tugasku
Bahkan berlebih tugasku darimu
Bahkan seharusnya tugas itu engkau yang memikulnya
Dan ditimpakan padaku
Pernahkah kukeluhkan itu?

Kawan ...
Jangan hanya karena sesekali aku lambat mendengar informasi
Tudingan buruk kau beri
Meski terlambat, bukankah selalu lebih dulu kulakukan tugasku daripadamu
Namun kenapa saat semua itu kulakukan
Malah cibiran yang masih kuterima
"Engkau kan hebat" katamu dengan raut tak suka

Kawan ...
Aku tak minta ucapan terimakasih darimu
Pun tak juga minta puja dan puji
Namun janganlah menebar benci
Sehingga menjadi aib diri

Kawan ...
Sedih hatiku saat kau cela dan maki
Seakan diri ini tak punya hati
Pun tak ada harga diri

Tembilahan, Medio Mei 2019
Laila Suryani

TERKADANG

Terkadang

Terkadang lelah menyertai
Mengiringi langkah kebersamaan ini
Sering terniat untuk melepaskan diri
Namun selalu ada yang menghalangi

Apakah diri yang tak pandai bersyukur
Atau sudah terlalu jenuh dengan hal ini?
Entahlah... Kadang terasa berat langkah
Menapaki kehidupan yang monoton

Berusaha mencari celah untuk terus mensyukuri
Kala melihat kehidupan orang lain yang tak seberuntung diri ini
Namun... Entah kenapa selalu saja lelah ini menghampiri
Saat egoisme dan amarah diri menyelimuti

Aaahhh... Apakah harus terus kutapaki
Meski lelah sering menyelimuti
Sampai ajal akhirnya menghampiri

Dari "Laila Suryani Belajar Menulis".

Pintu yang Berderit

Pintu yang berderit
Berderit dan berderit
Lagi dan lagi
Seakan menjadi saksi malam ini

Saat puisi malam menggaung dalam benak
Deritmu membuat kudukku merinding
Husss...
Pergilah
Jangan takuti aku dengan deritmu

Horor, mannn

#sagusakubersamabintang
#igi
#literasi
#inspirasimalam
#materijadipuisi
#horor
#tadimalam

KITA DAN DUNIA

Apakah yang kau kejar duhai jiwa
Ketenaran, pangkat, harta ataukah jabatan???
Dunia...
Sampai kapan ???
Tak lelahkah engkau, duhai jiwa ...
Mengejar dan mengejar
Berlari terus tak mengenal waktu.
Siang mau pun malam.
Bahkan terkadang dalam sujudmu pun kau masih mengingat dunia.

Lelahku melihatmu.
Tak henti kau kejar dunia
Ingin kuminta padamu agar berhenti sejenak.
Coba rebahkanlah dirimu...
Pasrahkan diri dalam rengkuhan sepertiga malam
Tunduk dan sujudlah.
Renungi perjalanan hidupmu selama ini.
Adakah lelahmu telah menjadi lillah ???

#Edisimuhasabahdiri
#Catatanuntukhatiyangrindu

Dari "Laila Suryani Belajar Menulis".

PUJIAN

PUJIAN

Pujian, hakikatnya adalah Ujian
Apakah diri ini akan menjadi bangga
Ujub bahkan menyombongkan diri
Pujian akankah membuat diri melayang
Terbang ke angkasa, merasa di awan
Hingga lupa untuk menunduk
Menatap ke bawah
Dan lupa untuk berpijak di bumi

Pujian, sejatinya adalah ujian
Akankah tetap dalam koridor keikhlasan
Bergerak mengubah lelah menjadi lillah
Atau untuk bertepuk diri
Merasa lebih dari yang lain
Menjadi arogan, diktator dan bertangan besi

Pujian, sejatinya adalah ujian
Pengingat hati
Agar mawas diri
Agar tak tersesat dari jalan Illahi

Laila Suryani Belajar Menulis

KOSONG

KOSONG

Pujimu hanya sebatas "kata"
Ucapmu hanya di lidah saja
Tindakan tanpa nyata
Manis di kata pemanis belaka
Hampa

Tak perlu bermanis muka
Berminyak air berkalang kaca
Lidah bicara tanpa makna
Tanpa tindakan nyata
Sementara inginmu tulang yang menghamba
Dan 'Cerebrum' tuk wujud impian jadi nyata
Berbalut kata sayang yang hanya fatamorgana

Hmmm ... Enyahlah ...
Sayangmu hampa
Persaudaraanmu riba
Memberi katamu
Bermakna balas jasa
Berlipat ganda
Akan kau pinta dan terus kau pinta
Terus, lagi dan terus
Sampai anganmu semua jadi nyata
Dan kau akui sebagai karya

Ah ...
Kau memang lihay bersilat kata
Manis bagai bunga
Lembut bagai kapas
Namun racunmu menghujam, menusuk dalam
Mematikan jiwa

Kau ...
Dendammu ke tulang sumsum
Merobek
Menggoyak urat nadi
Menimbulkan perih
Berdarah-darah
Darah yang tak berwarna
Luka yang tak nampak
Namun nyata adanya


Tembilahan,  Juli 2019
Dari Kumpulan "Laila Suryani Belajar Menulis".