PAES IKAN JUARA
Cerita Ramadhan hari ke-sepuluh
Teringat kembali saat di desa, di Pengalihan-Keritang, puluhan tahun yang lalu. Begitu mudahnya mendapatkan ikan-ikan yang segar. Ikan-ikan yang langsung dibeli di sampan atau dibeli di penampungan ikan dan belum sempat bermalam di lemari es. Rasanya gurih sekali. Ada baung sungai, tapah atau ikan juara.
Semua segar karena belum terkena es, harganya juga murah. Selain ikan, udang galah atau lobster juga murah di sini. Beda banget kalau sudah sampai di Tembilahan. Harganya akan naik jadi 2x lipat. Jangan tanya kalau sampai di Jambi. Tambah mahal lagi. Udang tenggek yang biasanya di bulan selain ramadan seharga Rp. 60.000 s.d. Rp. 70.000, di Jambi bisa Rp. 120.000. Dan itu bukan udang tenggek, tapi udang kuning yang keras kulitnya. Hanya karena kepingin dan melihat tak banyak ikan yang ada di pasar saja, maka aku membelinya.
Lalu apa hubungannya dengan cerita ramadan hari kesepuluh kali ini. Kenapa jadi ngelantur sampai membanding-bandingkan harga ikan dan udang sampai ke Jambi sana. Mau jualan? Atau mau protes soal kenaikan harga lauk pauk di bulan ramadan ini. Begitu mungkin tanyamu. Oooo... tidak. Bukan soal itu. Dengar ya gaes ceritaku, hihihi...(sambil mengikuti istilah seorang pria kelahiran Tembilahan, yang sedang viral di media sosial akhir-akhir ini. Siapa ya namanya... lupa tuh, hehehe).
Hari ini, sepulang sekolah, seperti biasanya, tempat yang pertama ku tuju adalah pasar. Shopping baju??? Oh, no. Pasar ikan dan sayur, tentu saja. Kukelilingi los-los tempat penjualan ikan. Ada ikan, udang,cumi, ayam dan daging. Kuperhatikan satu demi satu. Tak tahu mau masak apa hari ini. Ikan goreng plus yang disambal goreng sudah. Pindang sudah, bakar-bakaran sudah. Sop, saus pedas juga sudah. Asam pedas, sudah juga. Lalu apa lagi, pikirku. Keliling sekali lagi, ah... Siapa tahu dapat ide mau masak apa, pikirku sambil berjalan. Nun di sudut sana, di los ikan milik mamak Jaka, mataku tertumbuk pada seonggok ikan juara. Wah... akhirnya aku dapat ide. Di Pengalihan, aku sering mengolahnya menjadi pepes. Paes ikan juara.
Horeee... batinku bersorak. Anak-anak pasti suka, pikirku. Maka kubeli ikan tersebut, 2 ekor saja. Soalnya selain ikan, aku sudah membeli ayam dan cumi juga. Sedangkan untuk sayur, aku sudah membeli pakis. Rencanyanya akan kugulai. Gulai pakis juga disukai anak-anak dan suamiku. Apalagi kalau gulai tersebut ditambahkan dengan udang, akan terasa manis rasanya.
Nah... ngelantur lagi. Apa hubungannya cerita ini dengan kenangan di desa tadi??? Seperti belum nyambung. Ya...ya...ya... sebentar ya, dengarkan aku dulu. Belum selesai aku bercerita. Sabar ya. Sampai dimana tadi??? Oh, iya. Tadi aku kan bilang kalau aku lihat ikan juara dan dapat ide untuk masak hari ini. Ya, selain cumi, ayam dan gulai pakis, rencananya aku akan masak pepes (paes)ikan juara ini.
Banyaknya masakanmu, mungkin begitu tanyamu. Tenang, kawan. Belinya sedikit-sedikit kok. Kan bisa untuk stok di kulkas juga, hehehe
Apa tadi, paes ikan juara??? Iiih... tak enak, katamu. Soalnya ikan juara identik dengan... (tak usah disebut ya, ntar tak selera makan lagi). Yah... tidak seperti itu juga kaliiii. Bagi sebagian orang yang tak bisa memasaknya, ikan ini akan berbau. Tapi jika kita pandai, insya Allah tidak berbau. (Jadi, situ ngaku-ngaku pandai masak ya, katamu. Hehehe...bukan aku yang ngomong ya)
Tips memasak ikan juara agar tidak berbau itu ya, kuberi tahu nih, caranya adalah dengan tidak memotong ekornya. Begitu kata mamakku. Kalau dipotong ekornya, ikannya bisa bau. Apa hubungannya, katamu. Entahlah, aku pun tak tahu. Sampai hari ini, aku belum melakukan eksperimen terkait hal ini. Eeehhh... jangan cemberut. Mau dengar ceritaku tidak. Katanya kamu mau dengar cerita ramadanku. Bukankah hampir sepuluh hari ramadan, aku belum bercerita apa-apa padamu? Kuteruskan ya ....
Oke. Dengarkan, ya. Nah, ide tadi sudah ketemu. Sekarang bagaimana cara masaknya. Daun pisang untuk paes ikan tak ada. Kemana nyarinya ya. Dulu, di samping dan belakang rumah, ada pohon pisang batu dan pisang awak (bahasa Indonesianya apa ya, untuk istilah pisang awak ini). Tapi .. sekarang sudah jadi halaman bersemen dan jadi garasi motor. Tapi untunglah, akhirnya di sudut pasar aku melihat ada yang berjualan daun pisang. Maka berhasillah aku masak paes ikan juara hari ini.
Tapi,sebelum masak tadi sore, ada sedikit accident, teman-teman. Gini ceritanya. Sepulang dari pasar tadi, karena ujian cuma 1 mapel dan pulang cepat, sambil menunggu waktu dzuhur, aku dan suami memeriksa buah-buahan yang ada di halaman. Selain mangga, belimbing, jambu dan pepaya juga ada pohon nangka dan markisa. Pohon nangkanya tinggi menjulang dan markisa yang menjalar masuk halaman tetangga. Kami lalu memutuskan untuk memotong ujung pohon nangka yang menjulang tersebut. Setelah suamiku menggergajinya, aku membersihkan dan memotong dahan-dahan yang masuk rumah tetangga. Pohon markisa yang merambat juga kubersihkan. Soalnya jika dibiarkan, terkena pohon buah-buahan milik tetangga dan kabel saluran televisi.
Aku memotongnya dengan menggunakan gergaji. Sedang asyiknya memotong, kayu yang ku pijak patah, jadilah mata gergaji menancap di kulit, diantara kuku dan daging. Langsung membiru dan darah langsung mengucur. Badanku sampai gemetaran menahan sakit. Suamiku yang melihat, langsung memarahiku.
"Itulah, ikut-ikutan Abi kerja. Seharusnya biarkan saja Abi kerja, jangan ikut-ikutan. Mana kerja pakai baju kurung lagi."katanya. (Memang teman, sepulang dari pasar tadi, setelah mencuci dan memasukkan belanjaan, aku keluar rumah, membukakan pintu, karena suami dan si bungsu baru pulang. Belum sempat ganti baju).
Aku diam saja. Meringis menahan sakit dengan tubuh yang gemetar. Kucari-cari betadine, tak ada di kotak obat. Hansa-plast juga tak ada. Akhirnya setelah kucuci tanganku, ku ikat dengan secarik kain. Si bungsu Adly kemudian mencari-cari sesuatu di kamar si kembar, lalu dia menjumpaiku dengan hansa-plast dan perban di tangan. Kuganti secarik kain tadi dengan hansa-plast dan perban, tapi sakitnya masih terasa. Berdenyut-denyut. Untung suamiku sigap, dia ke warung dan pulang membawa betadine. Setelah kusiram dengan betadine dan ditutup dengan perban dan hansa-plast, denyutnya agak berkurang.
"Tak usah masak hari ini," katanya, "kita beli saja."
"Tak apalah," kataku. Nanti juga sembuh."
Dan Alhamdulillah...taraaaa... meski masih di bungkus perban dan hansa-plast dan masih perih terkena air dan garam, dibantu dengan pria terkece seantero jagat raya, semua yang kurencanakan tetap terwujud malam ini. Inilah, paes ikan juara. Sorry tinggal sebungkus ya, teman. Untuk sahur nanti, hehehe.