Sabtu, 30 November 2019

Muhasabah dalam Menghadapi Musibah

Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatu Alhamdulillahilladzi arsala rosulahu bil huda wa dinil haq.  Liyuzhhirohu 'alad dini kullihi. Wa kafa billahi syahida. Asyhadu alla ilaha illallah, wahdahu laa syarikalah. Wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu wa rosuluhu, laa nabiya ba'da. Allahumma sholli 'ala Muhammad, abdika wa nabiyyikal ummiyyi, wa 'ala alihi wa shohbihi wa sallam. Yth. Dewan juri, panitia dan hadirin sekalian Alhamdulillah, puja dan puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang telah memberikan kita nikmat sehat, udara gratis yang kita hirup yang kadang lupa kita syukuri. Nikmat sinar matahari, yang berkat wasilah darinya, Allah tumbuhkan tumbuhan yang menjadi makanan bagi kita dan hewan. Nikmat mata yang masih melihat, telinga yang masih mendengar dan kaki yang masih bisa melangkah. Nikmat mulut yang masih bisa mengecap dan hidung yang masih bisa membaui sehingga masakan terasa nikmat saat disantap. Nikmat air yang keberadaannya menjadi wasilah pada kelangsungan hidup manusia, hewan dan tumbuhan. Nikmat garam, yang jadi perantara akan adanya hujan dan makanan yang kita makan. Sungguh, nikmat-nikmat tersebut, sering kita lupakan dan ingkari. Kita terlena dengan kesibukan duniawi, terbiasa dengan keluh kesah, sehingga lupa untuk mensyukuri nikmat Ilahi. Selanjutnya, salawat beriring salam, kita haturkan ke haribaan junjungan alam, nabi akhirul zaman, nabi Muhammad Sholallahu alaihi wassalam, dengan melafadzkan"Allahumma sholi 'ala Muhammad, wa 'ala ali Muhammad" , semoga di yaumil mahsar nanti kita bisa berkumpul dan mendapat safaat dari beliau. Aamiin ya robbal 'alamiin. Hadirin yang berbahagia, Setiap kita pasti pernah mengalami cobaan, musibah, dan ujian dari Allah. Cobaan, musibah dan ujian kehilangan harta benda, kematian orang-orang yang dicintai, penyakit yang diderita, dan sebagainya. Beberapa bulan yang lalu, kita juga menerima ujian kabut asap, yang membuat kita kesulitan menghirup udara segar, membuat kita diserang banyak penyakit. Lalu, bagaimana kita menyikapi semua ini? Semua tergantung pada kepribadian dan iman kita sendiri. Apakah kita akan lalai atau intropeksi pada diri sendiri, menjadikan semua musibah, cobaan dan ujian tersebut sebagai bentuk muhasabah, self reminder bagi diri kita sendiri. Berapa banyak di antara kita, termasuk diri saya sendiri yang saat senang, lupa pada nikmat-nikmat yang sudah Allah berikan. Saat hujan terus menerus turun, kita mengeluh karena jemuran tidak kering, jalanan becek, air pasang, dan lain-lain. Menggerutu pada nikmat yang satu ini, padahal, tanpa kita sadari saat hujan turun merupakan saat dimana doa diijabah oleh Allah, selain antara adzan dan iqomah. Kita juga mengeluh, saat musim kemarau, hujan tak turun, padahal saat kemarau tersebut, tanaman memasak makanannya, berbunga dan berbuah, yang menjadi rezeki pada kita. Lalu, saat Allah berikan kita sedikit saja cobaan, ujian, kita bersedih berlebihan, kita menggerutu, bahkan terkadang menyalahkan keadaan. Bahkan kadang menyalahkan sang pencipta. Kita lupa bahwa cobaan maupun ujian tersebut adalah cara Allah untuk menaikkan derajat kita di hadapannya. Ingatlah, tak ada manusia yang tak luput dari ujian. Ujian dan cobaan adalah cara Allah untuk menaikkan derajat hamba-Nya, menunjukkan bukti bahwa Allah ingin kita lebih baik lagi di masa mendatang. Jangan juga marah dan kecewa, jika keadaan kita tak sebaik kehidupan orang lain. Saat kita kecewa, ingatlah, berapa banyak orang yang lebih menderita dari kita. Berapa banyak gelandangan, yang hanya bisa menyuap sesuap nasi sisa setengah basi untuk mengganjal perut, saat kita dengan sengaja membuang makanan karena merasa makanan tersebut kurang enak. Atau ... Saat kita berada di speedboat yang melaju kencang, pandanglah mereka yang berada di sampan, terombang ambing mencari penghidupan. Agar timbul rasa syukur kita dan tak menyalahkan cobaan yang Allah berikan. Saat Allah berikan cobaan, instropeksi diri, bermuhasabahlah, barangkali terlalu banyak dosa yang telah kita lakukan, berapa banyak nikmat yang telah kita ingkari. Mohon ampun pada-Nya, diiringi dengan kebaikan demi kebaikan. Jangan lupa untuk selalu berdoa pada sang pencipta. Ingatlah, tak ada doa yang tertolak, selama kita meyakininya dan tetap tawakal, berserah diri pada-Nya, dan terus menebar kebajikan. Di ujung tausiah ini, ijinkan saya membacakan sebuah puisi Dan satu buah renungan dari sebuah tulisan saya Demi Masa (1) Sesungguhnya manusia kerugian (2) Kecuali orang-orang yang beriman dan yang beramal sholeh (3) Dan yang nasehat menasehati dalam kebaikan dan kesabaran(4) Al-Ashr: 1 s.d. 4 . Wallahu a'lam bishshowab Akhirul qalam, kebenaran hakiki hanya milik Allah semata, kesalahan dan khilaf murni milik saya sendiri selaku insan. Saya tutup dengan mengucapkan wabbillahi taufik wal hidayah. Summa salamualaikum warrahmatullahi wa barakatuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar