Jumat, 01 November 2019

Itik Buruk Rupa

Itik Buruk Rupa

"Hei ... Itik Buruk Rupa, minggir!" teriak Aryo sengit sambil menabrakku. Terjajar ke dinding, kepalaku terantuk papan pengumuman. Sakit sekali. Rasa sakit yang membuat dua netraku mengeluarkan air.

"Keterlaluan kamu, Aryo. Apa sih salahku," kataku sambil menyusut airmata. Saat itu aku melihat pengumuman bersama teman-teman.

"Apa lo, salah siapa menghalangi jalanku. Sudah tahu Aryo and the Gank mau lewat, masih juga di tengah jalan. Lain kali cepat minggir, terutama elu, hei ... Itik Buruk Rupa." tudingnya ke mukaku.

"Kau ...." Aku hanya mampu berkata, lalu pergi meninggalkannya dengan hati penuh luka.

Bagus Aryo Putra, seperti namanya, wajahnya memang bagus. Tampan. Wajah Timur Tengah, mirip Nadiem Makarim, dengan kulit yang putih, membuat dia terlihat sempurna. Ditambah tubuh tinggi dan dada bidang, menambah nilai plus baginya. Sayang, kelakuan tak sebagus nama yang disandang, "Putra yang bagus dan bijaksana", begitu kulihat di akun google arti namanya.

Jahil, bikin onar, dan suka berkelahi. Entah berapa kali dia menghadap BK dan kepala sekolah. Orang tuanya juga kerap dipanggil, walaupun tak pernah datang. Sasaran utama kejahilannya adalah aku, Diah Putri Ayu, gadis kerempeng, berkulit hitam manis, berwajah biasa-biasa saja. Bukan hanya kejahilannya yang kudapat,  namun juga bully. Setiap hari.

***

Kutermenung, ingatanku  melayang, pada 20 tahun yang lalu, pada satu sosok, sosok lelaki yang berperan dalam mengubah penampilan dan menjadi upaya bagiku untuk sukses.

"Jangan sedih, Cantika. Tunjukkan pada dunia, terutama pada Gagah Putra Bangsa, cowok yang mengejekmu hampir tiap hari itu, bahwa ada yang lebih berharga dari sekedar kecantikan rupa, yaitu kecantikan hati. Ubahlah pikiranmu bahwa cantik itu rupa semata. Gantilah dengan sukses dalam karier dan juga rumah tanggamu kelak. Contohlah ibumu, yang cantik akhlaknya. Wanita hebat yang lemah lembut dan penuh kasih sayang. Kecantikan hatinya inilah yang membuat ayah tergila-gila pada ibumu," ujar suamiku panjang lebar.

Anakku tersenyum. Wajahnya ceria kembali. Nampaknya dia mulai menerima kata-kata ayahnya. Aku pun juga tersenyum. Kupandangi wajah suamiku, Bagus Aryo Putra, yang menatapku penuh cinta.

Aku, Diah Putri Ayu, si "Itik Buruk Rupa".

Laila Suryani
SMPN 2 TEMBILAHAN HULU

#FLASHFICTION
#BelajarmenulisFF








Tidak ada komentar:

Posting Komentar