Jumat, 02 Agustus 2019

DONAT MADU DAN SETANGKAI KEMBANG

Donat Madu dan Setangkai Kembang

Entah berapa lama aku tertidur dengan mukena yang masih melekat di tubuh, saat lamat-lamat kudengar ketukan pintu diiringi ucapan salam
"Assalamualaikum. Ma'am ... Ma'am ...."
"Wa alaikum salam," sahutku setengah mengantuk, "siapa, ya?"
Sambil berjalan dan membukakan pintu.
"Kami, ma'am."
Tampak Wiana, Tiara dan Rara di depan pintu dengan 2 kantong berisi sesuatu.
"Ada apa, nak."
"Kami kemarin lupa ngasih sesuatu untuk ma'am," sahut Tiara.
"Masuk dulu. Sebentar, Ma'am bukakan pintu depan."
Bergegas aku ke depan dan membuka pintu.
"Ayo, masuk. Maaf ya, kemarin Maam menyangka kalian sudah pulang. Mungkin tidak jadi foto studionya. Karena tidak melihat kalian, Maam pulang ke rumah."
"Iya, Maam. Kami nunggu Maam juga. Cuma sebagian dari kami ada yang ke studio, daftar."
"Maam lihat-lihat ke lapangan, tak ada yang nampak. Makanya Maam pulang.Oh, ya ... Gimana kata tukang fotonya, apa bisa diselipkan foto Ma'am di sela-sela kalian."
"Bisa, Maam. Jadi di tengah-tengah,  ada kursi yang dikosongkan. Nanti di situ, diselipkan foto maam."
"Yalah ... Maam mau ke sana lagi, sudah di rumah dan ganti baju. Lagipula belum sholat dzuhur."
"Iyalah, Maam."
"Tunggu sebentar, ya. Maam punya mangga. Metik tadi pagi dan sudah masak. Tadi Maam masukkan ke kulkas." Sambil berjalan ke dapur, kubuka kulkas dan mengambil mangga, piring dan pisau.
"Cuci tangan kalian dulu di keran depan. Biar Maam kupas mangganya. Biasanya mangga Maam ini manis banget. Ayo, dimakan."
Lalu mengalirlah cerita mengenai kelanjutan sekolah mereka. Juga tentang satu temannya yang terpaksa menunda untuk melanjutkan sekolahnya karena hanya hidup dengan nenek dan abangnya yang berpropesi sebagai nelayan yang kini pun sering sakit-sakitan.
"Tapi, dia tampaknya biasa saja, Maam. Ceria."
"Ya, itulah hebatnya dia. Dia sanggup tidak makan, asal semua  perlengkapan dan tugas sekolah tersedia. Bahkan, saat les pun dia sanggup tak makan siang karena tak ada uang untuk beli nasi dsb-nya. Begitulah semangatnya menuntut ilmu."
"Kami kalau sudah sarapan pagi, biasanya tahan sampai sore, Maam, begitu katanya, saat Maam tanya usai Maam mengajar di kelasnya."
"Tak bisa begitu, kata Maam. Belilah makanan. Kasihan, dia itu nak. Teman-teman kalian banyak yang bernasib tidak seberuntung kalian. Sama dengan " ...", rumahnya jauh. Di Subrantas sana, masuk lorong pula. Dia jalan kaki ke sekolah kita dan juga jarang jajan. Beberapa kali Ma'am jumpa dan mengantarnya. Ma'am salut pada mereka. Gigih memperjuangkan masa depan. Percayalah pada Ma'am, mereka ini kelak akan menjadi orang-orang yang sukses. Keinginan mereka keras. Jiwa mereka kuat. Pesan ma'am pada kalian bertiga, mumpung orangtua kalian masih kuat. Kehidupan lebih baik, jangan sia-siakan pengorbanan orangtua."
"Hei ... Makan lagi mangganya. Habiskan. O, ya ... Tadi bawa apa. Yuk, kita foto. Tapi ma'am pakai mukena gini saja, ya?" kataku memecah kesunyian karena melihat mereka terpekur meresapi nasehatku. Kasihan mereka. Maksud hati ingin bergembira denganku dengan memberi hadiah berupa bunga dan sekotak donat madu. Siswa bertiga ini memang perhatian sekali. Sering menanyakan, apakah aku sudah makan siang, saat mengajar terobosan di kelasnya. Waktu yang sedikit antara jam terakhir dan les sore yang hanya berkisar 20 menit, kadang hanya sempat dipakai untuk sholat dzuhur saja, sedangkan aku mengajar sampai jam terakhir. Makan di waktu istirahat kedua, kadang masih terasa kenyang, namun harus dilakukan jika tidak ingin kelaparan saat selesai terobosan. Kadang mereka membelikanku sesuatu. Lengkap. Dari roti sisir sampai ke susu kotak. Bukan cuma satu, bisa 2 sampai 4 buah. Biar gurunya kenyang kali ya. Kalau satu, tak kenyang, habis gurunya gendut, mungkin begitu pikir mereka. Hahaha ... Tapi apapun itu, asiknya menjadi guru itu di situ. Saat diperhatikan, disayang oleh siswa sendiri dan ini pasti tidak ditemukan di propesi lainnya. Tak percaya??? Cobalah, menjadi guru.

Tembilahan, 02 Mei 2019

Selamat Hari Pendidikan Nasional

Laila Suryani




Tidak ada komentar:

Posting Komentar