Jumat, 02 Agustus 2019

KHITAN

ADLY DAN KHITAN

"Aduuuhhh... sakittt..."teriak si bontot Adly, saat jarum suntik menusuk kulitnya. Ketegaran dan keinginannya yang sangat kuat sejak setahun yang lalu, gugur hari ini. Jatuh juga airmatanya akhirnya.

Sudah setahun yang lalu, Adly merengek-rengek padaku dan abinya untuk disunat. Tapi dengan pertimbangan kasihan karena masih kecil, niat itu kami tunda.

"Tahun depan saja, seperti abang-abang."kata abi Joni Sandra Thaib. Abang-abang kemaren juga sunat saat naik kelas 5 SD. Jadi adek sunatnya sama aza seperti abang-abang."lanjut abi lagi.

"Iyalah. Tapi abi janji ya. Janjinya seorang lelaki."kata dek Adly.

"Iya, abi janji. Janji seorang lelaki."sahut abi sambil tertawa. Aku pun juga tertawa.

Adly memang lucu. Bahasanya kadang tak terpikirkan oleh kami. Bahasa orang dewasa. Pikirannya juga. Kadang ada saja idenya yang tak masuk di akal dan tak terpikirkan oleh kami. Soal penanganan sampah dan jalan raya, misalnya. Dia pernah mengusulkan padaku agar sampah-sampah yang ada dan menggunung di Tembilahan untuk dijadikan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah.

Saat itu, kebetulan listrik sering mati hidup, mati hidup, tak jelas. Setiap hari dan setiap menjelang maghrib sehingga menyebabkan kami, ummat Islam kadang tergopoh-gopoh untuk menyiapkan penerangan. Menghidupkan genset, lilin atau lampu teplok.  Bahkan kadang-kadang, saat sholat maghrib, lampu mati sehingga terpaksa sholat dalam gelap. Terbayang kan, bagaimana rasa hati. Kesal. Apalagi kalau yang punya anak kecil atau bayi, saat sholat, debay atau anak-anak kecil berteriak ketakutan karena gelap. Wuiiihhh... bisa kesal setengah hidup dengan PLN.

Dan agar jalan-jalan di Tembilahan tidak cepat rusak, dek Adly juga mengusulkan agar truk-truk tidak masuk ke jalan-jalan utama dalam kota.

"Pakai mobil-mobil kecil saja, Ummi."katanya. Agar jalan-jalan tidak cepat rusak. Adek sering liat, kadang jalan baru saja diaspal, tak sampai sehari kadang sudah dilalui truk. Makanya jalan kita cepat rusak."sambungnya lagi.

Aku tersenyum-senyum saja mendengarkannya.

"Jadi, mi. Kalau sampah-sampah dijadikan Pembangkit Tenaga Listrik, Tembilahan jadi bersih dan jalan-jalan juga tidak cepat berlubang karena dilalui truk."lanjutnya lagi.

Aku manggut-manggut. Benar juga. Permasalahan sampah dan jalan yang buruk merupakan masalah utama di daerah kami ini. Kadang jalan sudah diperbaiki, tapi truk keluar masuk sehingga mudah rusak. Begitu juga sampah. Setiap pagi banyak sampah menggunung, bahkan kadang dalam sungai, got dan parit yang bisa merusak ekosistem, polusi udara dan rusaknya biota sungai dan laut. Walaupun sedari subuh sudah dibersihkan oleh petugas kebersihan, sebentar saja sampah sudah menggunung kembali. Perlu kesadaran yang kuat dari masyarakat terkait masalah ini. Kadang, keacuhan masyarakat dan menganggap masalah sampah hanya tanggung jawab pemerintah dan merasa sudah kewajiban petugas kebersihan untuk membersihkannya, menyebabkan sampah tetap menghunung di daerah ini. Yaaahhh... begitulah. Seharusnya ada kerjasama dari segala pihak demi terciptanya kota yang bersih dan indah.

Oke, sudahlah...  Kita tinggalkan masalah jalan dan sampah. Kita kembali pada masalah Adly hari ini. Sunat atau khitan.

Setelah menghubungi mantri sunat, Wiwid anak bu Hj. Hj Zulkemi Bunda Puja dan sama-sama sepakat bahwa pagi ini, kira-kira pukul 8.00 wib, prosesi khitan akan dimulai. Dari pagi, si bungsu Adly sudah bersiap-siap. Pagi-pagi sudah mandi dan tak sabar menunggu om Wid datang. Beliau mengabarkan bahwa beliau akan terlambat sedikit karena ada suatu keperluan. Tepat pukul 9.00 wib, om Wid datang. Suasana pagi yang teduh, menjadi dingin dengan jatuhnya butir-butir air yang gugur ke bumi, seakan ingin menyaksikan tumpahnya darah yang menandakan kesempurnaan sunah seorang pria dalam agama  Islam dimulai. Didahului oleh pembacaan doa Selamat oleh abi Joni Sandra Thaib dan Shalawat yang dihembuskan ke ubun-ubun Adly, prosesi pun dilakukan. Meski diiringi dengan teriakan kesakitan diawalnya saat pertama jarum suntik menancap, prosesi ini terlaksana dengan baik. Walaupun terus terang saja, sebagai ibu, aku tak berani menyaksikannya. Sama tak beraninya saat abang Dhiaul Fakhri Al-Aslam, Rifqi Ihsan Muzakki dan Rizki Ihsan Musyaffa pertama dikhitan.
Aku hanya mondar-mandir saja di kamar, sampai proses itu berakhir. Alhamdulillah, nak. Kini Adly sudah melaksanakan salah satu sunah dalam agama kami dan mulai hari ini, Adly sudah sah untuk mengimami sholat. Selamat, bontot ummi sayang. Luv U. Namun ada satu yang menjadi masalah, si bungsu Adly tak pandai minum obat. Satu-satunya obat yang mau diminumnya hanyalah Pimtrakol Syrup. Apapun jenis penyakit yang dia derita, obat batuk pilek dan influenza inilah satu-satunya obat yang menjadi media penyembuh baginya. Percuma saja dia dibawa berobat ke dr. karena obat-obat tersebut selalu terbuang percuma. Sama seperti kali ini. Walau dibujuk berulang kali, dia tetap kekeuh dengan pendiriannya.

Akhirnya, karena kasihan melihat dia yang merasa perih karena bius yang sudah habis, aku memberinya pimtrakol. Dengan keyakinan bahwa Allah Maha Penyembuh dan ditambah keyakinan yang mendalam dari dalam diri Adly sendiri, aku bertawakal kepada Allah bahwa tanpa obat-obatan yang sesuai, dia akan sehat. Dan benar saja, setelah tertidur sebentar, dia sudah bangun dengan segar dan melapor ke abinya bahwa dia sudah sembuh. Alhamdulillah.
Bukankah ketentuan Allah sebagaimana prasangka hamba-Nya. Dek Adly selama ini meyakini dengan Bismillah dan minum Pimtrakol, apapun sakit yang dia derita akan sembuh. Baik demam, plu bahkan cacar sekalipun. Memang jauh-jauh hari, abi kuatir sekali karena susahnya dia minum obat. Tapi aku berhasil meyakinkannya bahwa Adly akan baik-baik saja.

"Masak, dari bayi sampai umur 10 tahun ini, obat yang diminum pimtrakol terus."protes Abi Joni Sandra Thaib.

"Tak apalah, yah. Kalau dia yakin bahwa dengan minum pimtrakol, dia bisa sehat, biar saja. Lagipula, dia jarang sakit. Itu pula kelebihan yang Allah berikan kepadanya karena dia susah minum obat."

Abi akhirnya diam dan tak bicara lagi. Diam karena si bungsu sudah tertawa-tawa ceria. Diam, mungkin karena penjelasanku masuk di akal sehatnya. Alhamdulillah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar